RUNNY_R@NN

Snow White

Jumat, 11 Maret 2011

Cara Meningkatkan Mood dalam 2 Menit atau kurang

Tiba-tiba malas-malasan entah malas bergerak atau malas melakukan sesuatu dan kurang produktif seringkali kita alami. Untuk mendapatkan kembali mood kita ada beberapa cara yang bisa kita lakukan:
1. Fokus ke hal yang positif saja. Pada saat kita mengalami hari yang kurang baik, menghadapi masalah, stres, tertekan atau menghadapi sesuatu yang buruk kita akan cenderung untuk bersikap negatif yang bukannya memperbaiki keadaaan malah semakin memperburuknya. Kita kadang lupa diri dan terbawa emosi negatif. Untuk memperbaiki hal tersebut akan lebih baik bila kita fokus kembali ke masalah yang sebenarnya kita hadapi, melihat ke hal yang baik, apa yang telah kita lakukan dan seberapa jauh hal-hal yang telah kita capai. Dengan begitu kita akan mendapatkan kembali energi yang kita perlukan untuk bergerak maju. Daripada kita membuang energi ke hal yang negatif kan akan lebih baik bila kita fokus ke hal yang positif.
2. Mendengarkan lagu. Lagu yang didengar tentu saja lagu yang bisa bikin semangat, menyentak dan dinamis. Bukannya lagu sedih, datar, melow, dsb. Tapi itu tergantung kita juga siy. Ada orang yang jadi semangat kalau mendengarkan lagu-lagunya Avril Lavigne atau Justin Bieber disaat orang lain mungkin menemukan kembali moodnya dengan mendengarkan lagunya Kangen Band, ST 12 atau Smash. Musik bisa sangat-sangat meningkatkan mood kita. Coba deh perhatikan dengan mendengarkan musik kepala kita jadi manggut-manggut geleng-geleng kiri kanan, belum tangan kita ikut bergerak seperti memukul drum, ngejreng-ngejreng, kaki menyentak nyentak dan lain sebagainya. Setiap lagu (yang bagus) pasti ada soul-nya dan soul-nya itulah yang bikin kita semangat.
3. Minum Kopi atau teh dan istirahat sejenak (take a break). Coffee break di tempat kerja atau pada acara tertentu (di)ada(kan) dengan alasan tertentu. Iya, coffee break bisa memberikan kita kesegaran baru setelah sejak pagi kita bekerja, ini akan memberikan semangat baru yang kita perlukan ketika kembali menghadapi pekerjaan.
4. Berbicara dengan orang lain. Mengekspresikan perasaan kita kepada kawan/kolega dapat membawa efek terapi dan sebagai cara untuk mendapatkan kembali mood kita. Saat seseorang ber-empati, kita akan merasa beban berkurang dan merasa ada orang yang mengerti dengan apa yang kita alami. Mengetahui bahwa orang lain peduli ke kita dan memiliki perasaaan yang sama dengan kita akan memberikan motivasi bagi kita untuk bergerak.
5. Melakukan hal-hal yang berbeda dengan pekerjaan kita. Hilangnya mood bisa jadi diakibatkan karena kita menghabiskan waktu pada satu hal saja. Dalam kasus ini kita memerlukan ‘penyegaran’ baru. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan menjauh dari hal yang sedang kita kerjakan tersebut dan menyatu dengan hal yang benar-benar baru/berbeda. Bila kita telah bekerja di depan komputer sepanjang hari kita bisa istirahat dan pergi shopping, mengunjungi/bertemu dengan teman, membersihkan kamar, kamar mandi, olahraga, dll. Saat kembali ke pekerjaan,perasaan kita akan segar dan baru kembali.
6. Hal sederhana namun bisa cepat meningkatkan mood adalah dengan melakukan exercise atau menggerakkan anggota tubuh kita. Dengan bergerak, akan merangsang sirkulasi tubuh dan mendorong dilepaskannya hormon ‘senang’ yakni endorphin.
So, untuk mendapatkan kembali mood anda yang hilang hal-hal di atas bisa sangat membantu. Bisa dilakukan semuanya atau mungkin dengan menerapkan salah satunya saja mood anda sudah ketemu. Bisa kita lakukan secara simultan/bersamaan.

DETEKSI DINI PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG BAYI DAN BALITA

Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam ukuran fisik seseorang perkembangan (development) berkaitan dengan pematangan dan penambahan kemampuan (skill) fungsi organ atau individu.kedua proses ini terjadi secara sinkron pad setiap individu.


CIRI KHAS ANAK
1. Tumbuh
2. Tumbuh kembang
3. Berkembang


TUMBUH KEMBANG
Anak dapat tumbuh kembang melalui tahapan yang sesuai stimulasi,deteksi,dan intervensi.


1. MENGAPA DETEKSI DINI PERLU
a. Kualitas generasi penerus tergantung kialitas tumbuh kembang anak,terutama balita ( 0-3 tahun) merupakan masa perkembangan anak.
b. Penyimpangan tumbuh kembang harus dideteksi ( ditemukan )sejak dini,terutama sebelum berumur 3 tahun,supaya dapat segera diintervensi ( diperbaiki).
c. Bila deteksi terlambat,maka penanganan terlambat penyimpangan sukar diperbaiki.
d. Presiden RI 31 juli 2005 mencanangkan:Gerakan nasional pemantauan tumbuh kembang anak.
e. Wewenang bidan:Kepmenkes no 900/2002:Tentang registrasi dan praktik bidan.Bab V ps 16 dan 20.lam III :pemantauan deteksi/intervensi dini tumbuh kembang.


2. DETEKSI DINI PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG MENCAKUP
a. Aspek pertumbuhan
1. Timbang berat badannya(BB).
2. Ukuran tinggi badan (TB) dan lingkar kepalanya (LK).
3. Lihat garis pertambahan BB.TB,dan LK pada grafik.
b. Tanyakan Perkembangan
1. Tanyakan perkembangan anak dengan KPSP ( Kuesioner pra skrining perkembangan).
2. Tanyakan daya pendengarannya dengan TDD ( Tes daya dengar),penglihatan dengan TDL (Tes daya lihat).
c. Aspek Mental Emosional.
1. KMEE (Kuesioner masalah mental emisional).
2. CHAT (Check List for Autism Toddles :Leklis Deteksi Dini Autis).
3. GPPH ( Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas).


Jadwal dan jenis deteksi dini tumbuh kembang dapat berubah sewaktu-waktu yaitu pada :
a. Kasus rujukan
b. Ada kecurigaan anak mempunyai penyimpangan tumbuh
c. Ada keluhan anak mempunyai masalah tumbuh kembang


DETEKSI DINI PENYIMPANGAN TUMBUH KEMBANG


1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan
a. Pengukuran berat badan terhadap tinggi badan ( BB/TB )
1) Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak apakah normal, kurus, kurus sekali atau gemuk
2) Jadwal pengukuran BB/TB disesuaikan dengan jadwal deteksi tumbuh kembang balita. Pengukuran dan penilaian BB/TB dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih
3) Pengukuran BB :
a. Menggunakan timbangan bayi
1. Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun atau selama anak masih bisa berbaring atau duduk tenang
2. Letakkan timbangan pada meja yang datar dan tidak mudah bergoyang
3. Lihat posisi jarum atau angka harus menunjuk ke angka nol
4. Bayi sebaiknya telanjang, tanpa topi, kaos kaki dan sarung tangan
5. Baringkan bayi dengan hati-hati di atas timbangan
6. Lihat jarum timbangan sampai berhenti
7. Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan
8. Bila bayi terus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri


b. Menggunakan timbangan injak
1. Letakkan timbangan di lantai yang datar sehingga tidak mudah bergerak
2. Lihat posisi jarum atau angka menunjuk angka nol
3. Anak sbaiknya memakai baju sehari-hari yang tipis, tidak memakai alas kaki, jaket, topi, jam tangan, kalung dan tidak memegang sesuatu
4. Anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegangi
5. Lihat jarum timbangan sampai berhenti
6. Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan
7. Bila bayi terus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri


4) Pengukuran panjang badan (PB) atau tinggi badan (TB)
a. Cara mengukur dengan posisi berbaring
1. Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang
2. Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar
3. Kepala bayi menempel pada pembatas angka nol
4. Petugas 1 : kedua tangan memegang kepala bayi agar tetap menempel pada pembatas angka nol ( pembatas kepala)
5. Petugas 2 : tangan kiri menekan lutut bayi agar lurus, tangan kanan menekan batas kaki ke telapak kaki
6. Petugas 2 : membaca angka di tepi luar pengukur
b. Cara mengukur dengan posisi berdiri
1. Anak tidak memakai sandal atau sepatu
2. Berdiri tegak menghadap ke depan
3. Punggung, pantat dan tumit menempel pada tiang pengukur
4. Turunkan batas atas pengukur sampai menempel di ubun-ubun
5. Baca angka pada batas tersebut
c. Penggunaan table BB/TB (direktorat gizi masyarakat,2002)
1. Ukur tinggi atau panjang dan timbang berat badan anak, sesuai dengan cara di atas
2. Lihat kolom tinggi atau panjang badan anak yang sesuai dengan hasil pengukuran
3. Pilih kolom berat badan untuk laki-laki ( kiri ) atau perempuan ( kanan ) sesuai jenis kelamin anak, cri angka berat badan yang terdekat dengan berat badan ank
4. Dari angka berat badan tersebut, lihat bagian atas kolom untuk mengetahui angka Standar Deviasi (SD )


b. Pengukuran lingkar kepala
1. Tujuan pengukuran
Untuk mengetahui lingkar kepala anak dalam batas normal atau di luar batas normal
2. Jadwal pengukuran
Disesuaikan dengan umur anak. Umur 0-11 bulan, pengukuran dilakukan setiap 3 bulan. Pada ank yang lebih besar, umur 12-27 bulan, pengukuran dilakukan setiap 6 bulan. Pengukuran dan penilaian kepala anak dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih


3. Cara mengukur lingkar kepala
a. Pengukuran dilingkarkan pada kepala anak melewati dahi, menutupi alis mata, di atas kedua telinga, dan bagian belakang kepala yang menonjol, tarik agak kencang
b. Baca angka pada pertemuan dngan angka nol
c. Tanyakan tanggal lahir bayi/ anak, hitung umur bayi atau anak
d. Hasil pengukuran dicatat pada grafik lingkar kepala menurut umur dan jenis kelamin anak
e. Buat garis yang menghubungkan antara ukuran yang lalu dengan ukuran sekarang
4. Interpretasi
a. Bila ukuran lingkar kepala anak berada di dalam jalur hijau maka lingkar kepala ank normal
b. Bila ukuran lingkar kepala anak berada di luar jalur hijau, maka lingkar kepala ank tidak normal
c. Lingkar kepala anak yang tidak normal dibedakan menjadi 2: makrosepal, bila berada di atas jalur hijau dan mikrosepal, bila berada dibawah jalur hijau
5. Intervensi
Bila ditemukan makrosepal maupun mikrosepal segera dirujuk ke Rumah Sakit


2. Deteksi dini penyimpangan perkembangan
a. Skrining perkembangan anak menggunakan kuisoner pra skrining perkembangan (KPSP)
1. Tujuan: untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan
2. Jadwal skrining : umur 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66, 72 bulan. Jika anak belum mencapai umur skrining tersebut, minta ibu dating kembali pada umur skrining yang terdekat untuk pemeriksaan rutin.
3. Skrining dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK, petugas PAUD terlatih.
4. Alat yang digunakan adalah
a) Formulir KPSP menurut umur. Formuir ini berisi 9- 10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur 0- 72 bulan.
b) Alat bantu pemeriksaan berupa: pensil, kertas, bola sebesar bola tenis, kericingan, kubus berukuran 2, 5 cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah, potongan biscuit kecil berukuran 0, 5 - 1 cm
5. Cara menggunakan KPSP
a) Pada waktu pemeriksaan anak harus dibawa.
b) Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih dari 16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan.
c) Setelah menentukan umur anak, pilih pilih KPSP yang sesuai umur anak .
d) KPSP terdiri atas 2 macam pertanyaan, yaitu:
1) Pertanyaan yang dijawab oleh ibu atau pengasuh anak.
2) Perintah kepada ibu atau pengasuh anak atau petugas untuk melaksanakan tugas yang tertulis pada KPSP.
e) Jelaskan kepada orang tua agar tidak ragu- ragu atau takut menjawab oleh karena itu tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan satu- persatu. Setiap pertanyaan hanya satu jawaban ya atau tidak. Catat jawaban tersebut pada formulir.
f) Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/ pengasuh anak menjawab pertanyaan terdahulu.
g) Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab
6. Interpretasi hasil KPSP
a) Hitung berapa jumlah jawaban “ya”.
1) Jawaban “ya”, bila ibu atau pengasuh anak menjawab: anak bisa atau anak pernah atau anak sering atau kadang- kadang.
2) Jawaban “tidak”, bila ibu/ pengasuh anak menjawab: anak belum pernah melakukan atau tidak pernah atau ibu/ pengasuh anak tidak tahu.
b) Jumlah jawaban “ya”= 9 atau 10, perkembangan anak sesuai tahap perkembangannya (S).
c) Jumlah jawaban “ya”= 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M).
d) Jumlah jawaban “ya”=6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpanan (P).
e) Untuk jawaban “tidak”, perlu dirinci jumlah jawaban “tidak” menurut jenis keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian).
7. Intervensi
a) Bila perkembangan anakk sesuai umur atau (S), lakukan tindakan sebagai berikut:
1) Beri pujian kepada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan baik.
2) Teruskan pola asuh anak sesuai tahap perkembangan anak.
3) Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering, sesuai dengan umur dan kesiapan anak.
4) Ikutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan kesehatan di posyandu secara teratur sebulan sekali dan setiap ada kegiatan Bina Keluarga Balita. Jika anak sudah memasuki usia prasekolah (36- 72 bulan), anak dapat diikutkan pada kegiatan di PAUD, kelompok bermain dan TK
5) Lakukan pemeriksaan rutin menggunakan KPSP setap 3 bulan pada berumur kurang dari umur 24 bulan dan setiap 6 bulan pada umur 24 bulan sampai 72 bulan.
b) Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan berikut:
1) Beri petunjuk kepada ibu agar melakukan stimulasi perkembangan pada anak lebih sering lagi, setiap saat dan sesering mungkin.
2) Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi perkembangan anak untuk mengatasi penyimpanan/ mengejar ketinggalannya.
3) Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan penyimpangan/ mengejar ketinggalannya.
4) Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan penyimpangan perkembangannya.
5) Lakukan penilaian ulanh KPSP 2 minggu kemudian dengan menggunakan daftar KPSP yang sesuai dengan umur anak.
6) Jika hasil KPSP ulang jawabannya “ya” tetap 7 atau 8 maka kemungkinan ada penyimpanga (P).
c) Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P), lakukan tindakan sbb:
Rujuk ke RS, dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpangan perkembangan (gerak kasar, gerak halus, bicara, bahasa, sosialisasi dan kemanidirian)








b. Tes daya dengar (TDD)
1. Tujuan: untuk menemukan gangguan pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindak lanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak.
2. Jadwal: setiap 3 bulan pada bayi kurang dari 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak usia 12 bulan ke atas. Tes ini dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PAUD, dan petugas terlatih lainnya.
3. Alat yang diperlukan
1) Instrument TDD menurut umur anak
2) Gambar binatang (ayam, anjing, kucing) dan manusia
3) Mainan (boneka, kubus, sendok, cangkir, dan bola)
4. Cara melakukan TDD: tanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir, hitung umur anak dalam bulan, pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan umur anak
a) Pada anahk umur kurang dari 24 bulan:
1) Semua pertanyaan harus dijawab oleh orang tua/ pengasuh anak. Tidak usah ragu- ragu atau takut menjawab karena tidak untuk mencari siapa yang salah.
2) Bacakan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu dan berurutan.
3) Tunggu jawaban dari orang tua atau pengasuh anak.
4) Jawaban “ya” jika menurut orang tua/ pengasuh, anak dapat melakukannya dalam 1 bulan terakhir.
b) Pada anak umur 24 bulan atau lebih:
1) Pertanyaan- pertanyaan berupa perintah melalui orang tua/ pengasuh untuk dikerjakan oleh anak.
2) Amati kemampuan aank dalam melakukan perintah orang tuan atau pengasuh.
3) Jawaban “ya” jika anak dapat melakukan perintah orang tua/ pengasuh.
4) Jawaban ‘tidak” jika anak tidak dapat atau tidak mau melakukan perintah orang tua/ pengasuh.
5) Interpretasi
(a) Bila ada satu atau lebih jawaban “tidak”, kemungkinan anak mengalami gangguan pendengaran.
(b) Catat dalam buku KIA atau kartu kohort bayi/ balita/ status/ catatan medic anak jenis kelainan
6) Intervensi:
(a) Tindak lanjut sesuai dengan buku pedoman yang ada
(b) Rujuk ke RS bila tidak dapat ditanggulangi


c. Tes daya lihat (TDL)
1. Tujuan: untuk mendeteksi secara dini kelainan dapat dilihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar.
2. Jadwal: dilakukan setiap 6 bulan pada anak usia prasekolah umur 36- 72 bulan. Tes ini oleh tenaga kesehatan, guru TK, petugas PAUD terlatih.
3. Alat yang diperlukan:
a. Ruangan yang bersih, tenang dengan penyinaran yang baik.
b. Dua buah kursi , satu untuk anak, satu untuk pemeriksa.
c. Poster “E” untuk digantung dari kartu “E” untuk dipegang anak.
d. Alat penunjuk
4. Cara melakukan tes daya lihat
a. Pilih suatu ruang bersih dan tenang dengan penyinaran yang baik.
b. Gantungkan poster “E” setinggi mata anak pada posisi duduk.
c. Letakkan sebuat kursi sejau 3 meter dari poster “E” mengahap ke poster “E”.
d. Letakkan sebuah kursi lainnya disamping poster “E” untuk pemeriksa.
e. Pemeriksa memerikan kartu “E” pada anak. Latih anak dalam mengarahkan kartu E menghadap ke atas, bawah, kiri, kanan, sesuai ditunjuk pada poster “E” oleh pemeriksa, beri pujian setiap kali anak mau melakukannya. Lakukan hal ini sampai anak dapat mengarahkan kartu “E” dengan benar.
f. Selanjutnya anak diminta menutup sebelah matanya dengan buku/ kertas
g. Denga alat penunjuk, tunjuk huruf “E” pada poster satu- persatu mulai garis pertama sampai garis ke empat atau garis “E” terkecil yang masih dapat dilihat.
h. Uji anak setiap kali dapat mencocokan posisi kartu “E” yang dipegangnya dengan huruf “E” pada poster.
i. Ulangali pemeriksaan tersebut pad amata satunya dengan cara yang sama.
j. Tulis baris “E” terkecil yang masih dapat dilihat pada kertas yang telah disediakan .
Mata kanan:………………………… mata kiri:……………………..
5. Interpretasi
Anak prasekolah umumnya tidak mengalami kesulitan sampai baris ke-3 pada poster “E” bila kedua mata anak tidak dapat melihat garis ke-3 poster “E” artinya tidak dapat mencocokan arah kartu “E” yang dipegangnya dengan arah “E” pada baris ke-3 yang ditunjuk oleh pemeriksa, kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat.
6. Intervensi
Bila kemungkinan mengalami gangguan daya lihat, minta anak datang lagi untuk pemeriksaan ulang. Bila pada pemeriksaan berikutnya, anak tidak dapat melihat sampai baris yang sama atau tidak dapat melihat garis yang sama dengan kedua matanya, rujuk ke RS dengan menuliskan mata yang yang mengalami gangguan (kanan, kiri, atau keduanya).


3. Deteksi dini penyimpangan mental emosional
Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional,autisme dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak,agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi.
Alat yang digunakan untuk mendeteksi yaitu:
a) Kuesioner masalah mental emosional (KMME) Bagi anak umur 36 bulan-72 bulan
b) Ceklis autis anak pra sekolah (Checklist for Autism in Toddlers CHAT) bagi anak umur 18-36 bulan
c) Folmulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatiaan dan Hiperaktivitas (GPPH) M enggunakan Abreviated Conner Ratting Scale Bagi ank umur 36 bulan keatas.


a. Deteksi dini masalah mental emosional pada anak prasekolah
1) Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan atau masalah mental emosional pada anak prasekolah
2) Jadwal deteksi dini masalah mental emosional adalah rutin setiap 6 bulan pada anak umur 36-72 bulan.Jadwal ini sesuai dengan jadwal skrining atau pemeriksaan perkembangan anak.
3) Alat yang digunakan adalah KMME yang terdiri dari 12 pertanyaan untuk mengenali problem mental emosional anak umur 36-72 bulan.
4) Cara melakukan:
 Tanyakan setiap pertanyaan dengan lambat,jelas dan nyaring satu persatu perilaku yang tertulis pada KMME Kepada orang tua atau pengasuh anak.
 Catat jawaban “Ya”,Kemudian hitung jumlah jawaban “YA”
5) Interpretasi
Bila ada jawaban “YA”,Maka kemungkinan anak mengalami masalah mental emosional.
6) Intervensi
 Bila jawaban “ya” hanya 1 :
1. Lakukan konseling kepada orang tua menggunakan Buku Pedoman Pola Asuh yang memdukung Perkembangan Anak
2. Lakukan evaluasi setelah 3 bulan, bila tidak ada perubahan rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa atau tumbuh kembang anak.
 Bila jawaban “ya” ditemukan 2 atau lebih :
Rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa atau tumbuh kembang anak.Rujukan harus disertai informasi mengenai jumlah dan masalah mental emosional yang ditemukan.


b. Deteksi Dini Autism pada anak pra sekolah
1) Tujuanya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya autism pada anak umur 18-36 bulan
2) Jadwal deteksi dini autism pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari ibu atau pengasuh anak atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PAUD, pengolah TPA dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berubah berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini :
a) Keterlambatan bicara
b) Gangguan komunikasi atau interaksi sosial
c) Perilaku yang berulang-ulang.
3) Alat yang digunakan adalah CHAT.CHAT ini ada dua jenis pertanyaan, yaitu :
a) Ada 9 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua pengasuh anak.
Pertanyaan diajukan secara berurutan, satu persatu.Jelaskan kepada orang tua untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
b) Ada 5 pertanyaan bagi anak, untuk melaksanakan tugas seperti yang tertulis CHAT
4) Cara menggunakan CHAT
a) Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu-persatu perilaku yang tertulis pada CHAT kepada orang tua atau pengasuh anak.
b) Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas CHAT.
c) Catat jawaban orang tua atau pengasuh anak dan kesimpulan hasil pengamatan kemampuan anak, ya atau tidak.Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
5) Interpretasi
a. Resiko tinggi menderita autis : bila jawaban “tidak” pada pertanyaan A5, A7, B2, B3 dan B4.
b. Resiko rendah menderita autis : bila jawaban “tidak” pada pertanyaan A7 dan B4.
c. Kemungkinan gangguan perkembangan lain : bila jawaban “tidak” jumlahnya 3 atau lebih untuk pertanyaan A1-A4, A6, A8, A9, B1 dan B5.
d. Anak dalam batas normal bila tidak termasuk dalam kategori 1,2,dan 3.




6) Intervensi
Bila anak resiko menderita autis atau kemungkinan ada gangguan perkembangan, rujuk ke rumah sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak.


c. Deteksi dini gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) pada anak prasekolah .
1) Tujuanya adalah untuk mengetahui secara dini pada anak adanya GPPH pada anak umur 36 bulan ke atas
2) Jadwal deteksi dini GPPH pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari orang tua atau pengasuh anak atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PAUD, pengelola TPA dan guru TK.Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di bawahini :
• Anak tidak bisa duduk tenang
• Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah
• Perubahan suasana hati yang mendadak atau impulsif
3) Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini GPPH formulir ini terdiri dari 10 pertanyaan yang ditanyakan kepada orang tua atau pengasuh anak atau guru TK dan pertanyaan yang perlu pengamatan pemeriksa.
4) Cara menggunakan formulir deteksi dini GPPH :
• Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu-persatu perilaku yang tertulis pada formulir deteksi dini GPPH. Jelaskan kepada orang tua atau pengasuh anak untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab.
• Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan pada formulir deteksi dini GPPH.
• Keadaan yang ditanyakan atau diamati ada pada anak dimanapun anak berada, misal ketika di rumah, sekolah, pasar, toko, dan lain-lain.Setiap saat dan ketika anak denngan siapa saja.
• Catat jawaban dan hasil pengamatan perilaku anak selama dilakukan pemeriksaan. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.
5) Interpretasi
Beri nilai pada masing-masing jawaban sesuai dengan bobot nilai brikut ini dan jumlahkan nilai masing-masing jawaban menjadi nilai total.
• Nilai 0 : jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak
• Nilai 1 : jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan pada anak
• Nilai 2 : jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak
• Nilai 3 : jika keadaan tersebut selalu ada pada anak.
Bila nila total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH
6) Intervensi
a. anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke RS yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/ tumbuh kembang anak.
b. bila nilai total kurang dari 1 tetapi Anda ragu- ragu jadwalkan pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. ajukan pertanyaan kepada orang- orang terdekat dengan anak

IMUNISASI


Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuh tahan terhadap penyakit yang sedang mewabah atau berbahaya bagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya akan memberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja, sehingga untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasi lainnya.
Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak.
Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari imunisasi adalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yang sangat membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkan kematian pada penderitanya. Beberapa penyakit yang dapat dihindari dengan imunisasi yaitu seperti hepatitis B, campak, polio, difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar air, tbc, dan lain sebagainya.
Macam-macam / jenis-jenis imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi pasif yang merupakan kekebalan bawaan dari ibu terhadap penyakit dan imunisasi aktif di mana kekebalannya harus didapat dari pemberian bibit penyakit lemah yang mudah dikalahkan oleh kekebalan tubuh biasa guna membentuk antibodi terhadap penyakit yang sama baik yang lemah maupun yang kuat.
Teknik atau cara pemberian imunisasi umumnya dilakukan dengan melemahkan virus atau bakteri penyebab penyakit lalu diberikan kepada seseorang dengan cara suntik atau minum / telan. Setelah bibit penyakit masuk ke dalam tubuh kita maka tubuh akan terangsang untuk melawan penyakit tersebut dengan membantuk antibodi. Antibodi itu uumnya bisa terus ada di dalam tubuh orang yang telah diimunisasi untuk melawan penyakit yang mencoba menyerang.

Imunisasi terdiri dari :

I.                   WAJIB

1.      BCG
2.      DPT
3.      POLIO
4.      Hepatitis
5.      Campak

II.                DIANJURKAN

1.      MMR
2.      TIPHOID

III.             MASIH DALAM PENELITIAN

1.      Malaria
2.      DHF
3.      Influenza



1.      BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Adalah kuman yang sejak tahun 1920 selama 13 tahun dibiakkan sampai 230 kali oleh Calmette dan Guerin, sehingga menghasilkan basil yang attenuated.
a.     Indikasi
Untuk imunisasi terhadap penyakit Tuberkulosa (TBC).

b.                                                                             Dosis dan cara pemberian
Sesudah vaksin dilarutkan harus segera dipakai dalam waktu 3 jam dan sisanya harus dibuang.
Penyuntikan harus intrakutan di daerah insersio M. deltoideus dengan dosis :
Bayi < 1 tahun   :  0,05 ml
Anak                     :            0,1 ml
Penyuntikan harus dilakukan perlahan-lahan ke arah permukaan           ( sangat superfisial ) sehingga terbentuk suatu lepuh ( wheal ) berdiameter     8-10 mm.
Dilarang menggunakan alkohol dan desinfektans lainnya pada penyuntikan BCG.
Imunisasi ulangan dilakukan pada usia 5-7 tahun (usia masuk SD) dan usia 12-15 tahun (usia tamat SD) dengan dosis masing-masing 0,1 ml, bila uji tuberculin yang dilakukan sebelumnya negatif.

c.   Reaksi
Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti demam. Reaksi yang dapat terjadi adalah :
1).     Lokal
Satu sampai dua minggu kemudian timbul indurasi dan eritema di tempat suntikan yang berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi ulkus dan akhirnya menyembuh spontan dalam waktu 8-12 minggu, dengan meninggalkan cicatrik. Luka tersebut tidak memerlukan pengobatan.
2).  Regional
Kadang-kadang terdapat pembesaran kelenjar axilla dan atau cervical, terasa padat, tidak sakit, dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini adalah normal ( “BCG – it is“ / reaksi hipersensitivitas terhadap BCG ), tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dalam waktu 3-6 bulan.

d.  Komplikasi
1).   Abses di tempat suntikan dapat terjadi pada anak-anak > 1 tahun atau dewasa. Hal ini disebabkan oleh suntikan terlalu dalam (subkutan). Abses bersifat tenang (cold abses), tidak memerlukan pengobatan dan akan menyembuh spontan sekalipun lambat. Bila abses sudah matang    ( merah, fluktuasi, kulit tipis ) sebaiknya diaspirasi, tidak boleh diinsisi.
2).   Limfadenitis supurativa dapat terjadi pada bayi atau anak-anak < 2 tahun disebabkan oleh suntikan yang terlalu dalam atau dosis terlalu tinggi. Proses ini bersifat tenang, tidak memerlukan pengobatan dan akan memnyembuh dalam waktu 2-6 bulan sesudah vaksinasi. Apabila proses sudah matang (merah, fluktuasi, kulit tipis) sebaiknya diaspirasi, tidak boleh diinsisi atau diekstirpasi.

e.      Kontra Indikasi
Meskipun tidak ada kontraindikasi mutlak, tetapi sebaiknya vaksinasi BCG ditangguhkan bila ada penyakit akut dengan panas tinggi dan penyakit kulit yang berat.

Khasiat BCG sedikit-dikitnya berlangsung 3 tahun. Hal ini dapat diketahui dengan konversi uji tuberculin dari positif menjadi negatif. Namun beberapa sarjana berpendapat bahwa walaupun uji tuberculin negatif, kekebalan masih tetap ada. Beberapa sarjana lain menyatakan lamanya kekebalan sesudah mendapat BCG tersebut adalah 9 tahun.
Wallgren (1956), menyatakan bahwa sesudah mendapat BCG, seseorang anak masih dapat menderita infeksi tuberculosis primer, namun anak itu tidak akan mendapat komplikasi berat, seperti misalnya meningitis, tuberculosis milier, dan lain-lain. Hal ini merupakan keuntungan terbesar dari vaksinasi BCG.
WHO (1964) menganjurkan untuk melakukan vaksinasi BCG langsung tanpa melakukan uji tuberculin terlebih dahulu, terutama di negara yang sedang berkembang dengan resiko tinggi mendapa tinfeksi tuberculosis.

2.      DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus)
Merupakan vaksin kombinasi antigen toksoid dan antigen kumannya yang dimatikan. Setiap 1 ml dapat mengandung 32 milyar bakteri B. Pertusis yang sudah dimatikan.
a.      Indikasi
Imunisasi aktif secara simultan terhadap difteri, tetanus dan pertusis (batuk rejan).

b.     Dosis dan cara pemberian
Imunisasi DPT diberikan intramuscular atau subkutan dalam, dengan menggunakan alat suntik steril sekali pakai.Suntikan dianjurkan pada anterolateral paha bagian atas ( M. vastus lateralis 1/3 atas ). Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali, dimulai pada usia 3 bulan dengan dosis masing-masing 0,5 ml dengan selang 4 minggu (1 bulan),  dan dapat diberikan bersamaan dengan jadwal vaksinasi BCG, campak, polio, hepatitis B, hi-B, demam kuning,  kemudian diperkuat dengan imunisasi keempat yang diberikan 1 tahun setelah imunisasi ketiga. Ulangan imunisasi berikutnya dilakukan pada usia 5 tahun – usia masuk SD.
Selanjutnya ulangan imunisasi dilakukan setiap 5 tahun dengan menggunakan DT.

c.   Efek samping dan komplikasi
Biasanya hanya berupa demam ringan ( satu persejuta )  yang bersifat sementara seperti kemerahan dan pembengkaan pada lokasi suntikan. Kadang-kadang terjadi demam tinggi dan iritabilitas dalam 24 jam setelah penyuntikan Panas mulai pada hari vaksinasi (1 – 2 hari), anak menjerit lama, luka pada bekas suntikan. Dapat terjadi komplikasi ensefalitis (anak menderita hiperpireksia, status konvulsivus dan penurunan kesadaran). Oleh karena itu vaksinasi ini perlu ditangguhkan bila bayi atau anak menderita kejang atau mempunyai alergi.

d.  Kontra Indikasi
Pada gangguan cerebral, gangguan saraf terhadap komponen pertusis. Apabila setelah pemberian dosis pertama vaksin DPT terjadi reaksi yang berlebih, suntikan imunisasi berikutnya dianjurkan dengan DT. Pasien virus HIV baik yang asimtomatis maipun simtomatis tidask boleh diberikan vaksinasi ini.

3.      Polio
Yang dipakai ialah : vaksin salk (killed, suntikan) dan vaksin sabin (attenvated, oral). Vaksin salk disuntikkan sub kutan, yang pertama umur 3 bulan, yang kedua 4 minggu kemudian yang ketiga 6-7 bulan sesudah yang kedua. Efek samping tidak ada. Vaksin sabin dapat berupa cairan atau tablet dan harus disimpan dalam alat pendingin (freezer) dan yang lazim dipakai ialah yang mengandung 3 tipe sekaligus (trivalent).
Manfaat vaksin Salk dan Sabin sebenarnya sama, namun untuk negara yang sedang berkembang, vaksin Sabin lebih menguntungkan karena lebih murah (tanpa suntikan), mudah didistribusikan dan mudah diberikan kepada anak.
a.       Indikasi
Imunisasi aktif terhadap polio.

b.   Dosis dan cara pemberian

Satu dosis terdiri dari 2 tetes (0,1 ml). Untuk imunisasi dasar polio dimulai pada usia 3 bulan, diberikan 3 x (3 dosis), sebab ada kemungkinan terdapatnya jenis-jenis enterovirus lainnya dalam saluran pencernaan yang dapat menghambat berkembangbiaknya virus polio yang ada di dalam vaksin, dengan selang waktu 8 minggu (8 bulan), masing-masing 2 tetes, kemudian diperkuat 2x yaitu 1 tahun setelah imunisasi dasar selesai dan pada saat usia masuk sekolah dasar (6-7 tahun), selanjutnya pemberian keenam hanya dianjurkan bila didapatkan resiko kontak dengan virus polio ganas.


c.    Efek samping
Vaksin polio oral ini adalah salah satu vaksin yang paling aman      (Bull. WHO 60/2 : 231-242, 1982). Kemungkinan untuk terjadinya paralisis kurang dari 0,3 : 1. 000.000 (Bull. WHO 66/6 : 739-746, 1986).
Oleh bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI sejak 1962 telah didistribusikan tablet anti polio trivalent Sabin ke seluruh Indonesia dan belum pernah dilaporkan adanya efek samping maupun kasus polio pada anak yang telah mendapat imunisasi. Tetapi pada anak dengan daya tahan tubuh rendah, dapat terjadi diare.

d.   Kontra Indikasi
Penderita leukemia dan disgamaglobulinemia.

4.      Hepatitis B
Vaksin Hepatitis B rekombinan mengandung antigen virus hepatitis B, HbsAg, yang tidak menginfeksi yang dihasilkan dari biakan sel ragi Hansenula Polymorpha dimurnikan denga metode ultrasentrifugasi, kromatografi kolom dan diinaktivasi dengan formaldehid. Vaksisn Hepatitis B rekombinan berbentuk suspensi steril berwarna keputihan.

a.       Indikasi
Vaksin Hepatitis B rekombinan diindikasikan untuk imunisasi aktif melawan infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Vaksin hepatitis B tidak dapat mencegah infeksi yang disebabkan oleh virus lain seperti virus hepatitis A, hepatitis C atau virus lain yang diketahui dapat menginfeksi hati.
Vaksin hepatitis b rekombinan dapat diberikan pada semua usia. Vaksinasi direkomendasikan pada orang yang mempunyai resiko tinggi terkena infeksi virus hepatits B, termasuk :
-       Petugas kesehatan
Ahli bedah mulut, dokter gigi, dokter ahli bedah, perawat, perawat gigi, ahli kebersihan gigi, petugas paramedis yang kontak dekat dengan pasien, staf unit hemodialisis, hematologi dan onkologi, petugas laboratorium yang menangani darah dan sampel klinis lain, petugas pemakaman dan kamar mayat, petugas bank darah dan fraksinasi plasma, ahli siropodis, petugas kebersihan yang menangani pembuangan, petugas keadaan darurat dan pertolongan pertama, petugas ambulans.
-       Pasien
Pasien yang sering menerima transfusi darah seperti pada unit hemodialisis dan onkologi, penderita thalasemia, sicle-sell anemia, sirosis dan hemofilia.
-       Petugas lembaga
Orang yang sering kontak dekat dengan kelompok beresiko tinggi : narapidana dan petugas penjara, petugas di lembaga untuk gangguan mental.
-       Penyalahgunaan obat suntik adiktif
-       Orang dalam perjal;anan ke daerah endemis tinggi
-       Keluarga yang kontak dekat dengan pasien yang terinfeksi
-       Hepatitis B akut atau kronik
-       Bayi lahir dari ibu dengan HbsAg (+), apalagi bila HbeAg (+)
b.       Dosis dan cara pemberian
             Pemberian imunisasi dengan dosis 0,5 cc secara intramuscular. Pada orang dewasa, suntikan sebaiknya di M. deltoideus tetapi pada bayi dan anak kecil lebih baik disuntikkan pada bagian anterolateral paha karena ukuran otot deltoidnya masih kecil. Sebagai perkecualian, vaksin hepatitis B dapat diberikan secara subkutan pada pasien dengan kecendurangan perdarahan berat ( seperti hemofili ).
Vaksinasi dasar terdiri dari 3 dosis :
Dosis pertama   :  pada tanggal yang dipilih
Dosis kedua      :  satu bulan kemudian
Dosis ketiga      :  enam bulan setelah dosis pertama
Kelompok
Formulasi
Dosis I
Dosis 2
Dosis 3
Bayi & anak £ 10 thn
10 mcg/0,5 ml
0,5 ml
0,5 ml
0,5 ml

Vaksinasi dasar ini dapat memberikan perlindungan sampai beberapa tahun
Vaksinasi ulang :
Dosis ulang diperlukan setiap 5 tahun setelah vaksinasi dasar                 (0,5 ml/dosis untuk bayi dan anak ).

c.    Efek samping
             Reaksi lokal yang umumnya sering dilaporkan adalah rasa sakit, kemerahan dan pembengkaan di sekitar tempat penyuntikan seperti yang terlihat pada vaksin DPT. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya berkurang dalam 2 hari setelah vaksinasi.
             Keluhan sistemik yang tidak umum seperti demam, sakit kepala, mual, pusinf dan rasa lelah yang ditemukan belum dapat dibuktikan disebabkan karena pemberian vaksin.



d.       Kontra Indikasi
              Hipersensitif terhadsap komponen vaksin. Seperti pada vaksin lainnya, vaksin ini tidak diberikan pada orang terinfeksi demam berat. Efek terhadap perkembangan janin belum diketahui dan oleh karena itu vaksinasi pada wanita hamil tidak direkomendasikan. Tetapi vaksinasi pda wanita hamil dapat dipertimbangakan untuk mencegah hepatitis B pada keadaan resiko tinggi.

5.     Campak
Vaksin ini mengandung virus campak suku “ CAM 70” yang masih hidup, tetapi sudah dilemahkan, ditumbuhkan dalam biakan jaringan janin ayam, kemudian dibeku-keringkan.
a.        Indikasi
Untuk imunisasi terhadap penyakit campak

b.        Dosis dan cara pemberian
Mirip DPT, diberikan dengan dosis 0,5 cc secara subkutan pada   M. deltoideus setelah dilarutkan dengan pelarutnya.. Di Indonesia, vaksinasi campak diberikan pada usia 9-12 bulan cukup 1 dosis.  Bila anak baru datang pada usia di atas 12 bulan dan ia belum pernah menderita penyakit campak, maka sebaiknya vaksinasi segera diberikan.
Dalam keadaan wabah, imunisasi dapat dilakukan mulai umur 6 bulan disusul dengan suntikan ulangan 6 bulan kemudian dengan 1 dosis 0,5 ml.

c.         Efek samping
Bisa timbul efek samping berupa : diare, rash, conjungtivitis, gejala-gejala kataral.
Efek samping vaksinasi campak mungkin akan timbul panas dan ruam setelah masa inkubasi (1 – 2 minggu setelah vaksinasi).
Komplikasi berat akibat campak umumnya terjadi pada masyarakat golongan sosial ekonomi lemah atau rendah, yang tidak mampu memanfaatkan pelayanan rumah sakit. Ada hubungan yang erat antara campak dengan kwashiorkor, marasmus dan xeroftalmia.

d.        Kontra Indikasi
-          Anak dengan infeksi akut yang disertai demam
-          Anak dengan defisiensi imunologik
-          Anak dengan pengobatan intensif yang bersifat imunosupresif
-          Anak yang mempunyai kerentanan tinggi terhadap protein telur, kanamisin dan eritromisin.
-          Wanita hamil

BAGAN PEMBERIAN IMUNISASI YANG DIANJURKAN

IMUNISASI
1
2
3
4
5
6
BCG
(Intrakutan)
Tiap umur
Sebaiknya usia
2 bulan
0,05 ml
5 – 7*)
tahun


0,10 ml
12 – 15*)
tahun


0,10 ml




POLIO
(oral)
3 bulan


2 tetes
5 bulan


2 tetes
7 bulan


2 tetes
 1 ½ - 2
tahun

2 tetes
5 tahun – usia masuk SD
2 tetes
10 tahun – usia tamat SD
2 tetes
DTP
(intramuskular atau subkutan dalam)
3 bulan


0,50 ml
4 bulan


0,50 ml
5 bulan


0,50 ml
 1 ½ - 2
tahun

0,50 ml
5 tahun – usia masuk SD
0,50 ml

DT
(intramuskular atau subkutan dalam)





Tiap 5 tahun setelah DTP kelima

TIPA
(subkutan)
15 bulan


0,25 ml
18 bulan


0,25 ml
21 bulan


0,25 ml
5 tahun – usia masuk SD
0,25 ml
10 tahun – usia tamat SD
0,50 ml



0,50 ml
CAMPAK
(subkutan)
9 bulan atau lebih
0,50 ml